Sabtu, 24 Oktober 2015

#PART_2



#RS Jember Klinik and Me

Aku  dilahirkan di sebuah kota kecil di Jawa Timur, walau kotanya kecil tapi kota ini penyumbang devisa terbesar bagi Indonesia, lho. Itu karena tembakau dan kakaonya. Di kota Jember ini, pada tanggal dan bulan yang sama, di bulan Agustus 1975, Allah perkenankanku menikmati dunia dan beserta isinya sampai batas perjanjianku denganNya yang aku sendiri tidak tahu kapan. Bersyukur Allah telah memberikanku limpahan rahmat dan hidayahNya, serta memberiku orang tua yang sangat cinta dan sayang pada kami, anak-anaknya.

Bapakku menjadi salah satu karyawan di perusahaan perkebunan, yang sekarang bernama PTP Nusantara XII - dahulu bernama PTP 27. Perusahaan ini menangani Tembakau yang hasilnya sejak dahulu di ekspor dan menjadi andalan Indonesia untuk cerutunya. Tetapi Bapak menjadi staf di Rumah Sakitnya, yaitu RS Jember Klinik, dan di sinilah aku dilahirkan, rumah sakit paling tua dan paling asri menurutku. Bapak bekerja disini sejak kuliah dan diawali dari juru ketik di kantor. Bapak orangnya pekerja keras, disiplin, gak neko-neko, punya prinsip, administratib dan loyal (eis…kok seperti saya ya..). 

Karena  etos kerjanya itulah, maka pimpinan RS saat itu, dr. Endang, sepertinya sayang banget sama Bapak dan kami keluarganya. Rumah Sakit bagiku adalah rumah kedua, sekaligus menjadi tempat bermain yang paling menyenangkan. Karena tempat tinggal kami persis di timur rumah sakit saat itu, jadi aku suka sekali lompat jendela, kabur dari kewajiban tidur siang, hanya untuk say hello ke Bapak dan bermain petak umpet bersama petugas rumah sakit, atau sekedar lihat aktivitas para pekerja. Atau sekedar duduk di samping Bapak, lihat pekerjaannya. Hehehe… 

 
Ibuku juga ikut bekerja. Beliau di koperasi PTP yang letaknya lumayan jauh dari RS dan tempat tinggal kami, yaitu di kecamatan Jelbuk. Bapak mendapat fasilitas rumah tinggal dari perusahaan yang letaknya di sisi timur Rumah Sakit. Kami bersama sekitar 7 keluarga disana. 

Karena Bapak dan Ibu bekerja, mereka ambil seorang asisten untuk mengurus rumah dan ada adiknya Ibu juga seringkali datang. Kakek dan nenekku juga Bapak bawa tinggal bersama kami. Jadi praktis rumah itu berpenghuni 7 orang, karena anak Bapak saat itu baru 2 orang.

Bagi kami anak-anak karyawan ada banyak fasilitas dan kagiatan yang telah disediakan, mulai dari antar jemput sekolah, kegiatan tari dan senam. Nah kalau sudah jadwal tari dan senam aku paling suka…karena tempatnya selalu berpindah-pindah. Kadang di aula RS Jember Klinik, kadang ke Jelbuk tempat Ibu, atau ke perumahan PTP di daerah Kaliwates. Biasanya kami dibawa pakai bus mini, atau mobil VW, mobil kodok paling keren jaman itu. Kalau urusan senam, aku kebetulan anak emas si pelatih ceritanya. Bukan karena apa sih, aku kan anggota paling muda, paling kecil lagi, tapi paling cepet hapal gerakan, jadi sama pelatihnya suka disuruh ke depan, jadi model untuk yang lain, cieee…


Ada cerita lucu nih..
Pernah suatu saat kami latihan ke Jelbuk tempat ibu. Saat pulang, aku kebagian duduk di tengah. Karena aku kecil maka tak tampaklah dari spion depan oleh drivernya. Oia..saat itu aku masih usia 4/5 tahunan. Seperti biasa kami diantar pulang satu-satu, sampai depan rumah masing-masing. Sampai bus mau masuk garasi aku belum juga diturunkan. Aku terus berdiri di atas kursi sambil teriak-teriak…pak…pak stop, berhenti, rumahku sudah lewat. Sontak saja drivernya kaget, karena saat itu tidak membawa kernet. Lho, kamu masih disitu toh, oalah maaf ya..bapak ndak kelihatan, bapak pikir semuanya sudah turun.. Akhirnya aku diantar dengan jalan kaki, setelah bus diparkir di halaman samping rumah sakit. Untung saja garasi bus dekat dengan rumah. Sambil menggandengku, si pak drivernya bilang, besok-besok kalau latihannya anjangsana, kamu harus duduk di depan ya…supaya bapak bisa lihat. Ya pak, sahutku.  Iih… si bapak ndak tau apa kalau tadi aku bener-bener takut. Coba kalau aku tertidur, trus mobil sudah masuk garasi, dan si bapak pergi dengan menutup garasi….trus aku terbangun dan tidak menemui siapapun…..hohoho….takuuuutttt.  Tapi sejak itu, aku dapat fasilitas plus, plus duduk di depan, plus disuruh cerita-cerita, plus dikenal setidaknya sama drivernya…hehehe.

Disela kesibukannya, Bapak menjadi pelatih karate di Kodim. Kebetulan Bapak yang buka cabang Inkai di Jember . Tiap  minggu pagi aku sering diajak kesana, lihat yang latihan atau ngikut-ngikut di belakang. Bapak dan Ibu kebetulan sama-sama suka karate, jadi anaknya suka diajak lihat latihan. Kalau pas ujian kenaikan tingkat atau ada event komite, biasanya Josh Rudy datang ke Jember…(aih…baru gede ini aku tau Josh Rudy juga artis..)

Aku dan adik juga pernah menjadi pasien rumah sakit ini selama 2 tahun non stop pengobatannya. Paru-paruku dan adik divonis kotor oleh dokter, kebetulan yang menangani dr. Endang langsung. Ternyata disebabkan oleh bekas minuman kakek yang kami minum. Padahal seingatku kami memang tidak boleh pakai peralatan makan minumnya kakek. Karena kakek juga masih dalam perawatan paru-parunya. Tapi berhubung  aku dan adik “nglathis”, kami suka curi-curi cicip minuman kakek. Dan akhirnya begini deh… tiap hari jarum suntik nancap di bokong kiri dan kanan, tiap saat rongsent, harus minum obat beraneka ragam dan itu selama 2 tahun lho. Untung rumah kami dekat dengan rumah sakit dan Bapak Ibu super attensi pada kami, sampai akhirnya aku dan adik dinyatakan negative oleh dokter. Alhamdulillah..
Sekali waktu Bapak pulang untuk sekedar memberitahuku kalau dipanggil dr. Endang. Dokter Endang adalah leader di RS Jember Klinik, rumahnya sekompleks juga dengan rumah sakit. Aku paling seneng kalau Bapak bawa kabar itu. Karena pasti aku disuruh nyanyi diiringi pianonya, disuruh nari sudah pasti dan cerita. Eh iya, dr. Endang ini perempuan lho, karena ada dokter dengan nama yang sama tetapi laki-laki. Nah beliau ini ndak punya anak perempuan, kedua anaknya semua laki-laki. Jadi kalau lagi pingin rumahnya ramai, aku suka dipanggil, sering malah. Maka jadilah rumah sakit ini rumah keduaku.
Saat senggang  atau pas libur, Bapak biasanya jemput para keponakannya yang semuanya kebetulan laki-laki. Kadang dibawa renang ke kolam renang Kebon Agung, yang saat itu kolam renang satu-satunya di Jember. Atau sekedar main ke alun-alun lihat anak main bola, layangan atau jogging.
Kalau cerita alun-alun, aku ndak akan pernah lupa dengan satu peristiwa disana. Ceritanya nih, Bapak mengajak kami-aku dan adik juga kakak-kakak sepupu-main ke alun-alun. Kakak-kakakku asyik main layang-layang, Bapak membantu mereka menaikkan layangan, aku dan adik duduk di atas podium kecil yang ada di dekat tiang bendera sebelah timur. Awalnya kami duduk dengan tenang, sambil sesekali teriak-teriak dan tepuk tangan memberi semangat. Lalu entah bagaimana ceritanya aku turun dari podium,  sambil melompat-lompat memberi semangat karena layang-layang kakak diadu. Tapi tak lama kemudian teriakanku jadi berbeda, aku kesakitan teramat sangat. Teriakanku berubah jadi panggil-panggil Bapak sambil menangis sekerasnya. Bapak segera menghampiriku, ternyata aku jingkrak-jingkrak tepat di atas sarang semut merah. Huaaaaaa….panas banget rasanya. Orang-orang di alun-alun sampe ikutan mengerumuniku. Acara sore itu jadi agak heboh dan segera disudahi, karena kaki kananku bengkak dan merah kehitaman. Kami segera pulang, Bapak segera memberikan pertolongan pertamanya. Dan ternyata, kulitku peka banget sama gigitan serangga. Bekas gigitannya   biasanya sampe bernanah gitu. Karena Bapak orang rumah sakit, meskipun bukan perawat atau dokter, tapi sedikit banyak tahu SOP nya untuk kasus sepertiku. Maka jadilah kaki kananku di balut dan entah diberi apa saat itu juga diberi pereda nyeri karena aku kesakitan. Hahahaha…jadi ketawa sendiri kalau lihat foto saat itu, duduk di atas almari pendek sambil nangis. Sampai sekarang, kalau ke alun-alun aku pasti ke titik tempat aku menginjak sarang semut itu dan fatalnya lagi, kalau lihat semut merah bulu kudukku berasa protes, berdiri semua.
Sampai pada suatu saat Bapak memutuskan untuk ikut Proyek kebun ke Dompu-NTB. Maka otomatis kami sekeluarga harus ikut. Karena aku masih kecil, tidak tahu pasti sebab Bapak ambil keputusan itu, walau belakangan aku tahu juga akhirnya. Jabatan Bapak tertinggi sebelum ke Dompu setauku adalah PJS RS Jember Klinik. Mungkin karena jabatan ini juga membuat Bapak terpaksa ambil keputusan ikut ke Dompu, karena para golongan tua merasa iri jabatan itu diberikan ke Bapak yang masih muda. Sementara mereka yang notabene lebih tua tidak mendapatkan jabatan itu. nah…dst lah..Bapak rupanya pilih tidak terjadi konfrontasi dengan golongan tua.

********