#RS Jember Klinik and Me
Aku dilahirkan di
sebuah kota kecil di Jawa Timur, walau kotanya kecil tapi kota ini penyumbang
devisa terbesar bagi Indonesia, lho. Itu karena tembakau dan kakaonya. Di kota
Jember ini, pada tanggal dan bulan yang sama, di bulan Agustus 1975, Allah
perkenankanku menikmati dunia dan beserta isinya sampai batas perjanjianku
denganNya yang aku sendiri tidak tahu kapan. Bersyukur Allah telah memberikanku
limpahan rahmat dan hidayahNya, serta memberiku orang tua yang sangat cinta dan
sayang pada kami, anak-anaknya.
Bapakku menjadi salah satu karyawan di perusahaan perkebunan,
yang sekarang bernama PTP Nusantara XII - dahulu bernama PTP 27. Perusahaan ini
menangani Tembakau yang hasilnya sejak dahulu di ekspor dan menjadi andalan
Indonesia untuk cerutunya. Tetapi Bapak menjadi staf di Rumah Sakitnya, yaitu
RS Jember Klinik, dan di sinilah aku dilahirkan, rumah sakit paling tua dan
paling asri menurutku. Bapak bekerja disini sejak kuliah dan diawali dari juru
ketik di kantor. Bapak orangnya pekerja keras, disiplin, gak neko-neko, punya
prinsip, administratib dan loyal (eis…kok seperti saya ya..).
Karena etos kerjanya
itulah, maka pimpinan RS saat itu, dr. Endang, sepertinya sayang banget sama Bapak
dan kami keluarganya. Rumah Sakit bagiku adalah rumah kedua, sekaligus menjadi tempat
bermain yang paling menyenangkan. Karena tempat tinggal kami persis di timur rumah
sakit saat itu, jadi aku suka sekali lompat jendela, kabur dari kewajiban tidur
siang, hanya untuk say hello ke Bapak
dan bermain petak umpet bersama petugas rumah sakit, atau sekedar lihat
aktivitas para pekerja. Atau sekedar duduk di samping Bapak, lihat
pekerjaannya. Hehehe…
Ibuku juga ikut bekerja. Beliau di koperasi PTP yang letaknya
lumayan jauh dari RS dan tempat tinggal kami, yaitu di kecamatan Jelbuk. Bapak
mendapat fasilitas rumah tinggal dari perusahaan yang letaknya di sisi timur
Rumah Sakit. Kami bersama sekitar 7 keluarga disana.
Karena Bapak dan Ibu bekerja, mereka ambil seorang asisten
untuk mengurus rumah dan ada adiknya Ibu juga seringkali datang. Kakek dan
nenekku juga Bapak bawa tinggal bersama kami. Jadi praktis rumah itu berpenghuni
7 orang, karena anak Bapak saat itu baru 2 orang.
Bagi kami anak-anak karyawan ada banyak fasilitas dan kagiatan
yang telah disediakan, mulai dari antar jemput sekolah, kegiatan tari dan
senam. Nah kalau sudah jadwal tari dan senam aku paling suka…karena tempatnya selalu
berpindah-pindah. Kadang di aula RS Jember Klinik, kadang ke Jelbuk tempat Ibu,
atau ke perumahan PTP di daerah Kaliwates. Biasanya kami dibawa pakai bus mini,
atau mobil VW, mobil kodok paling keren jaman itu. Kalau urusan senam, aku
kebetulan anak emas si pelatih ceritanya. Bukan karena apa sih, aku kan anggota
paling muda, paling kecil lagi, tapi paling cepet hapal gerakan, jadi sama
pelatihnya suka disuruh ke depan, jadi model untuk yang lain, cieee…
Ada cerita lucu nih..
Pernah suatu saat kami latihan ke Jelbuk tempat ibu. Saat
pulang, aku kebagian duduk di tengah. Karena aku kecil maka tak tampaklah dari
spion depan oleh drivernya. Oia..saat itu aku masih usia 4/5 tahunan. Seperti
biasa kami diantar pulang satu-satu, sampai depan rumah masing-masing. Sampai
bus mau masuk garasi aku belum juga diturunkan. Aku terus berdiri di atas kursi
sambil teriak-teriak…pak…pak stop, berhenti, rumahku sudah lewat. Sontak saja drivernya
kaget, karena saat itu tidak membawa kernet. Lho, kamu masih disitu toh, oalah
maaf ya..bapak ndak kelihatan, bapak pikir semuanya sudah turun.. Akhirnya aku
diantar dengan jalan kaki, setelah bus diparkir di halaman samping rumah sakit.
Untung saja garasi bus dekat dengan rumah. Sambil menggandengku, si pak
drivernya bilang, besok-besok kalau latihannya anjangsana, kamu harus duduk di
depan ya…supaya bapak bisa lihat. Ya pak, sahutku. Iih… si bapak ndak tau apa kalau tadi aku
bener-bener takut. Coba kalau aku tertidur, trus mobil sudah masuk garasi, dan
si bapak pergi dengan menutup garasi….trus aku terbangun dan tidak menemui
siapapun…..hohoho….takuuuutttt. Tapi
sejak itu, aku dapat fasilitas plus, plus duduk di depan, plus disuruh
cerita-cerita, plus dikenal setidaknya sama drivernya…hehehe.
Disela kesibukannya, Bapak menjadi pelatih karate di Kodim.
Kebetulan Bapak yang buka cabang Inkai di Jember . Tiap minggu pagi aku sering diajak kesana, lihat
yang latihan atau ngikut-ngikut di belakang. Bapak dan Ibu kebetulan sama-sama
suka karate, jadi anaknya suka diajak lihat latihan. Kalau pas ujian kenaikan
tingkat atau ada event komite, biasanya Josh Rudy datang ke Jember…(aih…baru
gede ini aku tau Josh Rudy juga artis..)
Aku dan adik juga pernah menjadi pasien rumah sakit ini selama
2 tahun non stop pengobatannya. Paru-paruku dan adik divonis kotor oleh dokter,
kebetulan yang menangani dr. Endang langsung. Ternyata disebabkan oleh bekas
minuman kakek yang kami minum. Padahal seingatku kami memang tidak boleh pakai
peralatan makan minumnya kakek. Karena kakek juga masih dalam perawatan
paru-parunya. Tapi berhubung aku dan
adik “nglathis”, kami suka curi-curi cicip minuman kakek. Dan akhirnya begini
deh… tiap hari jarum suntik nancap di bokong kiri dan kanan, tiap saat
rongsent, harus minum obat beraneka ragam dan itu selama 2 tahun lho. Untung
rumah kami dekat dengan rumah sakit dan Bapak Ibu super attensi pada kami,
sampai akhirnya aku dan adik dinyatakan negative oleh dokter. Alhamdulillah..
Sekali waktu Bapak pulang untuk sekedar memberitahuku kalau
dipanggil dr. Endang. Dokter Endang adalah leader di RS Jember Klinik, rumahnya
sekompleks juga dengan rumah sakit. Aku paling seneng kalau Bapak bawa kabar
itu. Karena pasti aku disuruh nyanyi diiringi pianonya, disuruh nari sudah
pasti dan cerita. Eh iya, dr. Endang ini perempuan lho, karena ada dokter
dengan nama yang sama tetapi laki-laki. Nah beliau ini ndak punya anak
perempuan, kedua anaknya semua laki-laki. Jadi kalau lagi pingin rumahnya ramai,
aku suka dipanggil, sering malah. Maka jadilah rumah sakit ini rumah keduaku.
Saat senggang atau pas
libur, Bapak biasanya jemput para keponakannya yang semuanya kebetulan
laki-laki. Kadang dibawa renang ke kolam renang Kebon Agung, yang saat itu
kolam renang satu-satunya di Jember. Atau sekedar main ke alun-alun lihat anak
main bola, layangan atau jogging.
Kalau cerita alun-alun, aku ndak akan pernah lupa dengan satu
peristiwa disana. Ceritanya nih, Bapak mengajak kami-aku dan adik juga
kakak-kakak sepupu-main ke alun-alun. Kakak-kakakku asyik main layang-layang,
Bapak membantu mereka menaikkan layangan, aku dan adik duduk di atas podium
kecil yang ada di dekat tiang bendera sebelah timur. Awalnya kami duduk dengan
tenang, sambil sesekali teriak-teriak dan tepuk tangan memberi semangat. Lalu entah
bagaimana ceritanya aku turun dari podium,
sambil melompat-lompat memberi semangat karena layang-layang kakak
diadu. Tapi tak lama kemudian teriakanku jadi berbeda, aku kesakitan teramat
sangat. Teriakanku berubah jadi panggil-panggil Bapak sambil menangis
sekerasnya. Bapak segera menghampiriku, ternyata aku jingkrak-jingkrak tepat di
atas sarang semut merah. Huaaaaaa….panas banget rasanya. Orang-orang di
alun-alun sampe ikutan mengerumuniku. Acara sore itu jadi agak heboh dan segera
disudahi, karena kaki kananku bengkak dan merah kehitaman. Kami segera pulang,
Bapak segera memberikan pertolongan pertamanya. Dan ternyata, kulitku peka
banget sama gigitan serangga. Bekas gigitannya
biasanya sampe bernanah gitu. Karena Bapak orang rumah sakit, meskipun
bukan perawat atau dokter, tapi sedikit banyak tahu SOP nya untuk kasus
sepertiku. Maka jadilah kaki kananku di balut dan entah diberi apa saat itu
juga diberi pereda nyeri karena aku kesakitan. Hahahaha…jadi ketawa sendiri
kalau lihat foto saat itu, duduk di atas almari pendek sambil nangis. Sampai
sekarang, kalau ke alun-alun aku pasti ke titik tempat aku menginjak sarang
semut itu dan fatalnya lagi, kalau lihat semut merah bulu kudukku berasa
protes, berdiri semua.
Sampai pada suatu saat Bapak memutuskan untuk ikut Proyek
kebun ke Dompu-NTB. Maka otomatis kami sekeluarga harus ikut. Karena aku masih
kecil, tidak tahu pasti sebab Bapak ambil keputusan itu, walau belakangan aku
tahu juga akhirnya. Jabatan Bapak tertinggi sebelum ke Dompu setauku adalah PJS
RS Jember Klinik. Mungkin karena jabatan ini juga membuat Bapak terpaksa ambil
keputusan ikut ke Dompu, karena para golongan tua merasa iri jabatan itu
diberikan ke Bapak yang masih muda. Sementara mereka yang notabene lebih tua tidak
mendapatkan jabatan itu. nah…dst lah..Bapak rupanya pilih tidak terjadi
konfrontasi dengan golongan tua.
********