Minggu, 01 Maret 2015

#PART_1



#What the meaning is your name

Tiba-tiba saja teringat teman di tempat kursus bahasa Inggris. Dia pengajar bahasa Jepang. Ndak tau kenapa, kalau ketemu saya respect banget dianya, semangat 45 pokoknya, apalagi dia tau sayanya guru TK.
“Ayo mbak Rini, saya konsultasi dulu, kan masih 15 menit lagi masuknya… atau “mbak, nanti selesai les saya konsul lagi ya..” (hehehe…payu tiba e..) Kami suka share tentang psikologi anak, tahapan perkembangan anak dan banyak hal about child. Rupanya dia suka cara saya bantu dia cari solusi untuk anaknya..

Nah, ketika saya ke Medan beberapa waktu lalu untuk menikmati reward dari Dinas Pendidikan kabupaten, si Holidan nama teman di Texas English Course itu, terbang juga tapi ke Jepang. Wuiiih…asyik pastinya..kapan sayanya bisa ke Jepang juga ya? Seng gratis gitu…dalam rangka reward seperti ke Medan ini. Kini kami sudah sama-sama kembali ke habitat masing-masing, to teach our student…
Lalu kubuka aplikasi BBM dan kirim pesan, “Mas Holidan, tolong carikan artinya Unshita ya, terima kasih”.

Entahlah…tiba-tiba rasa ingin tau akan arti namaku jadi kelewat lagi. Bayangin deh, 39 tahun lho, saya ndak tau persis artinya Unshita itu. Untungnya waktu nikah dulu ndak ditanyai artinya sama Pak Mudin, bisa tolah-toleh saya. Suka bingung saja kalau ditanya orang tentang artinya.

Dari kecil karena suka pindah domisili karena mengikuti tugas Bapak, maka setiap kali di tempat tinggal dan sekolah baru, pasti disuruh kenalin diri kan, dan ketika tau namaku rada aneh, mereka pasti penasaran dengan artinya, so pasti itu….!!!
Rasanya ndak keitung deh, belum selesai TK di Jember, sudah harus ikut pindah ke Dompu-NTB sampai kelas 1 SD. Belum lagi naik kelas 2, eee harus balik ke Jember lagi. Naik ke kelas 2, kitanya harus terbang ke Manado. Kali ini di desa..duesa lho. Di desa Tanoyan ini aku 2 kali pindah sekolah, di SD Negeri dan SD Inpres. Soalnya di SD Negeri aku kepinteran kali ya, mosok nilai di rapor 10 semua. Bapak sampai complain ke kepala sekolahku, tapi beliau bilang memang itu nilai anak Bapak…. Hehehe, ini aku yang memang pinter atau ndak punya saingan kali ya…?
Akhirnya saat naik ke kelas 3, Bapak mutuskan untuk memindahkanku ke SD Inpres yang letaknya berseberangan dengan SD Negeri, hanya dibatasi alun-alun desa. Dan yang bikin aku terkejut adalah aku diantar masuk ke kelas 4, harusnya kan ke kelas 3…. ???!!!! apa-apaan ini?
Di rumah Bapak memberikan penjelasan secukupnya sampai aku mengerti. Maklumlah …anak Jawa pindah ke Sulawesi, di desa pula. Kalaupun harus lompat kelas masih bisa ngikuti…(malah jadi bintang kelas..hehehe).

Di desa ini aku bener-bener jadi si bolang, tomboy abis. Mainnya ke hutan, sungai, sawah, kebun orang…pokoknya sampe mana-mana. Bahkan bisa renangpun gara-gara suka diajak main ke sungai. Sampai pernah dihukum sama Ibu, dikurung di kamar, karena seharian main di sungai…weeeh bandel banget kan..
Tibalah saatnya kami harus pindah dari desa ke kota. Bukan urban ya, tapi karena tugas Bapak di desa ini sudah selesai. SK Bapak selanjutnya di kota Manado. Waktu itu aku kelas 5. Kami tinggal di daerah kampung Islam, tepatnya di Tuminting. Kelas 6 aku harus pindah lagi, karena Bapak ditempatkan di Palu. So, untuk yang kesekian kalinya, Bapak-Ibu, aku dan adik-adik harus pisah dan jumpa-pisah dan jumpa…hmmmmm sampe hapal rasanya hati que..sediiiih.

Di Palu ternyata sama seperti di Dompu, panaaas. Sudah  hitam tambah legam aku mah.. Bapak awalnya mendaftarkan kami di SD Teladan, berhubung kelasnya penuh, maka tertolaklah kami. Mungkin supaya ndak nyari-nyari sekolah lagi dan pertimbangan kedekatan deengan rumah (dan aslinya sih belum tau medan), maka Bapak membawa kami ke SD Bumisagu 1 yang sekompleks sama SD Teladan tadi. Jadi murid baru lagi deh….
Alhamdulillah…aku akhirnya lulus SD di SD Bumisagu 1 Palu ini, setelah melanglang buana dari kelas 1 sampe kelas 6. Mana ada satu rapor SD dengan lebih dari 7 stempel sekolah yang berbeda ??? Yah…that is mine.

Lanjut ke SMP nih ceritanya. Dengan danem yang kumiliki, akhirnya bisa masuk ke SMP favorit saat itu, SMP 4. Bayanganku yang namanya SMP favorit semuanya serba lux, ehh…taunya acakadul. Kelasku saja contohnya, dan masih banyak kelas yang lain ( tidak termasuk kelas 2 dan 3 ya, karena bangunan dan meja kursinya baru).  Jendelanya tak berdaun apalagi berkaca, pintunya asal bisa dibuka saja sudah syukur, itupun harus pake bantuan batu untuk ganjelnya..parah abis pokoknya… Tapi tak apalah, sudah kadung ini. Sayangnya ketika naik kelas 2 aku dan 2 adikku harus balik ke Jember, karena Bapak rencana minta pindah tugas ke tanah kelahirannya. Di Jember aku diterima di SMP 2, SMP yang katanya bergengsi di Jember, sampai lulus lho..

Saat masuk SMA, back to Palu again.., karena pengajuan pindah Bapak tidak di acc. Di Palu diterima di SMA 1, sampai kelas 2 saja disini, karena setelah mewakili Sulteng lomba Koperasi tingkat Nasional, aku langsung nyangkut ke Jember, permintaan pindah Bapak di acc!!! Aku numpang lulus di SMA 1 Jember.
Ndak  kebayang toh, aku menyelesaikan sekolah saja harus mondar-mandir kayak setrikaan. Bolak-balik adaptasi di tempat baru, eihh ndak mudah lho. Apalagi kalau pindahnya dari luar Jawa ke Jawa. Ngejar ketinggalan pelajaran kayak ngejar kereta api…sueruuuu pake banget!!!!

Nah….balik lagi ke namaku nih.. Jadi kata Bapak dan Ibu, Unshita itu nama kata di Inkai (karate) asal kata dari Jepang, yang saat aku dalam kandungan, Bapak lagi ujian kata itu…pas aku lahir, nama kata itu diabadikan untuk namaku. Begitu juga jawabku kalau ditanya orang. Tapi aku kok belum sreg ya.. Tanya ke adek yang 3 tahun sekolah di Jepang, malah disuruh balik tanya ke yang ngasih nama. Tanya ke mbah google kok jawabnya juga ndak jelas..(mbah google nya bingung juga kali ya..). Sampai akhirnya keingat sama Holidan. Ndak yakin dijawab sih, tapi namanya juga usaha.
Alhamdulillah…Holidan baik banget, langsung di respon sama dia, lengkap banget jawabannya..
“Mbak Rini, artinya ini:
Un     = keberuntungan
Shita = lidah, bawah
Unshita       = keberuntungan yang berasal dari kepiawaian berbicara, keberuntungan yang dirintis dari bawah”.

Oh my God..So beautiful name. Special thanks to my parent, their give me beautiful name and differet from the other..and I know, this is your hope and pray for me, your child.
#i like this..

@@@@@@@@@@@

Tidak ada komentar:

Posting Komentar